Showing posts with label Mutiara Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Mutiara Hikmah. Show all posts
Kini, kita telah memasuki bulan baru dalam tahun Hijriah yang baru pula, yaitu tahun 1438 H. Tahun Baru Hijriah diawali oleh bulan Muharam. Bulan tersebut, termasuk salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. sebagaimana Al-Qur'an menyebutkan bahwa di antara dua belas bulan di dalam tahun Hjriah terdapat empat bulan yang dimuliakan Allah SWT. Hal itu sebagaimana tertera dalam Al-Qur'an Surah Attaubah ayat 36,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

Inna AAiddata alshshuhoori AAinda Allahi ithna AAashara shahran fee kitabi Allahi yawma khalaqa alssamawati waalarda minha arbaAAatun hurumun thalika alddeenu alqayyimu fala tathlimoo feehinna anfusakum

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.

Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan karena mempunyai beberapa ciri khas sebagai berikut:
  • Pertama, pada bulan tersebut dilarang adanya pembunuhan. Termasuk di kalangan kaum jahiliah, mereka mengakui dan melaksanakan larangan tersebut.
  • Kedua, dilarang adanya perbuatan-perbuatan lain yang diharamkan. Tentu, bulan lain pun perbuatan haram perlu dijauhi. Namun, khusus pada bulan-bulan yang diharamkan lebih ditekankan lagi sebagaimana dalam Al-Qur'an ayat di atas. Menurut Ibnu Abbas bahwa Allah mengkhususkan empat bulan tersebut (bulan Muharam, Rajab, Zulkaidah, dan Zulhijah) sebagai bulan haram. Dianggap sebagai bulan suci karena melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar dan amalan saleh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.
  • Ketiga, bulan Muharam merupakan bulan yang dinisbatkan kepada Allah SWT. yang dinamai Syahrullah (bulan Allah). Hal itu sebagaimana dalam hadits yang artinya,
    "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada Syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharam. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam."
  • Keempat, bulan ini dijadikan bulan pertama dalam tahun Hijriah. Tahun yang berdasarkan dari titik tolak peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW. dan kaum Muslimin dari Mekah ke Madinah. Bulan ini pun merupakan nama bulan yang diganti pasca-Islam, berbeda dengan nama-nama bulan lainnya. Sebelum ditetapkan dalam tahun Hijriah, bulan tersebut bernama Shoffar Al-Awal.
  • Kelima, dalam bulan Muharam terdapat hari Assyuro. Berdasarkan Riwayat Imam Bukhari, Muslim, dan Abu Daud dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi Muhammad SAW. datang ke Madinah, Nabi melihat kaum Yahudi yang puasa pada hari Assyuro, selanjutnya Nabi bertanya, "Kenapa kalian puasa pada hari Assyuro?" Mereka menjawab, "Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh-Nya, bahkan Nabi Musa pun puasa." Nabi Muhammad SAW. bersabda, "Aku lebih berhak mengikuti Musa daripada kalian." Selanjutnya Nabi pun puasa, demikian pula kita sebagai umatnya disunahkan berpuasa. Begitu juga hadits dari Ibnu Abbas RA. bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda,
    "Puasalah pada hari Assyuro dan berbuatlah sesuatu yang berbeda dengan Yahudi, dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya." (HR Ahmad dan Ibnu Khuzaimah)
    Dalam Riwayat Ibnu Abbas lainnya disebutkan,
    "Berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya."
Di antara keutamaan puasa pada hari Assyuro adalah adanya keutamaan yang diberikan Allah SWT. kepada yang berpuasa pada hari itu, yaitu dihapus dosa-dosanya yang telah dikerjakan selama satu tahun sebelumnya. Hal itu sebagaimana yang terdapat di dalam hadits Abu Qatadah RA. bahwasannya seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah SAW. tentang puasa Assyuro. Rasulullah SAW. menjawab,
"Saya berharap Allah SWT. menghapus dosa-dosa kita selama satu tahun sebelumnya." (HR Muslim)

Berdasarkan beberapa riwayat lainnya bahwa selain hari Assyuro (tanggal 10 Muharam), disunahkan pula puasa pada hari kesembilannya yang dinamai dengan Tasu'a (tanggal 9 Muharam), sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud dari Ibnu Abbas, yang artinya,
"Nanti tahun depan, Insya Allah aku juga akan puasa pada Tasu'a (hari kesembilan)."

Berdasarkan hal di atas, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan sebelum dan setelah datang bulan Muharam. Di antaranya, merenungkan perjalanan waktu ke belakang sebagai bahan introspeksi diri. Barangkali banyak dosa yang khilaf telah dilakukan, baik bersifat mahdhah maupun ghoir mahdhah. Selanjutnya, bertobat kepada Allah SWT. dan meminta maaf kepada sesama manusia yang sekiranya terdzalimi oleh kita. Paling tidak, kembali menyambungkan silaturahmi yang sempat terputus.
Memanfaatkan waktu dengan hal-hal bermanfaat, baik untuk diri sendiri, terlebih untuk orang lain, baik bersifat duniawi maupun ukhrowi. Di antaranya, tolong-menolong dengan sesama, perbanyak berdzikir, mengoptimalkan shalat wajib dan shalat sunah, serta berpuasa sunah. Kalau tidak demikian, waktu akan terbuang sia-sia tanpa makna.

Pepatah bahasa Arab menyatakan bahwa, Alwaktu kassaifidza lam taqto'hu qathoaka (Waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak memotongnya, dia akan memotongmu). Ada pula syair berbahasa Arab yang menyatakan, Lan tarji'al ayyam allatii madhot (Tidak akan pernah kembali hari-hari yang telah berlalu). Dalam sebuah syair Arab lainnya, Alwaktu astmanna minadzdzahabi (Waktu itu lebih berharga daripada emas).

Selain itu, mentafakuri peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya dari Mekah ke Madinah. Mengambil hikmah dari kejadian itu. Di antaranya semakin termotivasi untuk berbuat baik, istiqamah dalam kebaikan, sabar dan tawakal dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Hal yang tidak dapat diabaikan juga adalah tidak melupakan tahun Hijriah sebagai tahun umat Islam. Dua belas nama-nama bulan yang terdapat dalam tahun Hijriah jangan sampai terlupakan. Dengan mengenal dan mengetahuinya merupakan salah satu dari syiar Islam.

Walaupun tahun Masehi lebih populer dan menjadi acuan tanggal sebagian besar masyarakat di dunia ini, sebagai Muslim, tidak lupa terhadap keberadaan tahun Hijriah. Hal itu berarti mengikuti perjalanan dan ikhtiar para sahabat Nabi yang telah bersusah payah menetapkan adanya tahun Hijriah sebagai penanggalan kalender Islam.

Selain itu, telah menjalankan salah satu pesan Nabi Muhammad SAW. untuk berpegang kepada sunah Nabi dan sunah Khalafaurrasyidin sebagaimana dalam hadits yang artinya

"Berpeganglah dengan sunahku dan sunah Khulafaur Rasyidin yang diberi petunjuk, gigitlah dengan gerahammu." (Hadis Shahih Riwayat Ahmad, At-Tirmidzy, Al-HaWm, Al-Baghawy)

Dalam hadits lain yang artinya,
"Aku wasiatkan kepada kalian (untuk mengikuti) para sahabatku, kemudian orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka." (Sahih Sunan Ibnu Majah)

Untuk itu, di Tahun Baru Islam 1438 H. ini, semoga kita diberikan kekuatan untuk menjalankan segala perintah Allah SWT. dan menjauhi larangan-Nya sehingga tahun yang akan datang lebih baik daripada tahun sebelumnya.

Amin.***

[Ditulis oleh ASEP JUANDA, Ketua DKM At-Taqwa, Cicalengka, Mekarmukti, Cihampelas, Bandung Barat. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Wage) 16 November 2012 / 2 Muharam 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Beberapa hari yang lalu, umat Islam memperingati Tahun Baru Hijriah. Tahun baru umat Islam ini diambil dari jejak hijrah Rasulullah SAW. yang menjadi salah satu momentum penting penegakan syariat Islam di muka bumi.

Kita pun seyogyanya menggali kembali hikmah yang terkandung di balik peristiwa hijrah yang dijadikan momentum awal perhitungan tahun Hijriah ini. Tahun Hijriah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Sistem penanggalan Islam itu tidak mengambil nama Tahun Muhammad atau Tahun Umar. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personifikasi, tidak seperti sistem penanggalan tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa, Al-Masih (Arab) atau Messiah (Ibrani).

Atau pula tidak seperti sistem penanggalan Bangsa Jepang, Tahun Samura, yang mengandung unsur pemujaan terhadap Amaterasu O Mi Kami (Dewa Matahari) yang diproklamasikan berlakunya untuk mengabadikan kaisar pertama yang dianggap keturunan Dewa Matahari, yakni Jimmu Tenno (naik tahta tanggal 11 Februari 660 M yang dijadikan awal perhitungan Tahun Samura). Atau penangalan Tahun Saka bagi suku Jawa yang berasal dari Raja Aji Saka.

Hijrah yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban Islam pada awal-awal pertumbuhannya adalah eksodus besar-besaran yang menuntut pengorbanan dan perjuangan yang sangat berat. Para sahabat muhajirin rela meninggalkan tanah kelahiran, harta benda, dan segala yang dicintainya, bukan karena diusir kaum kuffar Mekah, melainkan karena perintah Allah SWT.

Begitulah sejarah telah mencatat, betapa ikhtiar baik yang dilandasi oleh dimensi keikhlasan dan kepasrahan total akan selalu dikenang dan tak lekang oleh zaman. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. dan para sahabatnya adalah ekspresi keagamaan yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, pertimbangan menuju perubahan yang dicita-citakan. Ia menyimpan banyak pelajaran yang harus dipetik, direnungkan, lalu diaplikasikan dalam realitas kehidupan sehari-hari, terutama di masa kini.

Momentum Tahun Baru Hijriah ini harus kita jadikan sebagai sarana "hijrah" menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam Islam disebutkan, "haasibuu qobla antuhaasabuu. Artinya, hitunglah dirimu sebelum kamu sekalian dihitung (hisab)". Sebagai rasa syukur maka sebaiknyalah kita sebagai Muslim yang taat memanfaatkan tahun baru ini untuk menginstrospeksi diri, mengevaluasi diri, bermuhasabah atas segala perencanaan, perbuatan, dan program hidup yang telah dilakukan tahun sebelumnya.

Jadikan saat-saat seperti ini sebagai momen yang tepat bagi kita untuk selalu berintrospeksi diri tentang amal ibadah apa yang sudah kita capai dan hal apa saja yang masih kurang dalam diri kita. Dengan demikian, melalui instrospeksi tersebut nantinya kekurangan-kekurangan kita bisa diperbaiki dan diperbarui di masa depan dan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan tidak akan diulangi lagi.

Bagi Rasulullah SAW., hijrah bukan hanya merupakan strategi dakwah Islam, tetapi juga merupakan pengembangan kecerdasan spiritual dan pendidikan nilai. Sungguh luar biasa kesabaran jiwa Rasulullah SAW. dan para sahabatnya dalam menghadapi berbagai intimidasi, cercaan, makian, boikot, bahkan ancaman pembunuhan terhadap dirinya dari kaum kafir Quraisy.

Pendidikan nilai inilah yang patut kita semaikan kembali kepada anak-anak dan murid kita di sekolah. Hijrah mendidik umat Islam agar selalu berkomitmen terhadap nilai-nilai heroik. Menjadi Muslim harus siap menjadi pejuang serta penegak kebenaran dan keadilan, di mana pun dan kapan pun. Nilai-nilai heroik dari hijrah tidak hanya tercermin dalam hijrah pertama umat Islam ke Habsyi (yang waktu itu tidak diikuti langsung oleh Rasulullah SAW.), tetapi juga terlihat dengan jelas dalam hijrahnya Nabi SAW. dan para sahabatnya dari Mekah ke Madinah.

Mereka semua rela mengorbankan harta, raga, dan bahkan jiwanya demi kejayaan Islam. Nilai heroik semacam ini sangat penting karena tidak jarang sebagian orang, ketika dihadapkan kepada pilihan perjuangan, yang dicari adalah "menyelamatkan diri" lebih dulu dan mencari keuntungan (duniawi) yang sebesar-besarnya.

Semoga kita bisa mengikuti teladan yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW., para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Amin Ya Robbal'alamin. ***

[Ditulis oleh AHMAD SYUKRON, Koordinator DKM Al-Muhajirin - Karang Anyar, Panjalu, Kab. Ciamis. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis), 8 November 2013 / 4 Muharam 1435 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Salah satu pekerjaan yang kian diburu masyarakat adalah pegawai negeri sipil. Jangan lupakan pula "lowongan" menjadi wakil rakyat ataupun pengurus lembaga non departemen yang juga diburu. Kalau dulu PNS identik dengan kehidupan yang serba pas-pasan, kini PNS, terutama yang memiliki jabatan, mendapatkan fasilitas dan tunjangan yang cukup tinggi dan malah terkesan "wah".

Para pejabat, termasuk wakil rakyat, menunjukkan kehidupan yang jauh dari kondisi rakyat di bawah. Ketika rakyat terhimpit harga-harga kebutuhan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak ataupun tarif dasar listrik, kehidupan para pejabat dan wakil rakyat tak terpengaruh sama sekali. Bahkan, ketika negara memiliki utang lebih dari Rp. 2,000 triliun tetap saja tidak ada upaya untuk penghematan. Namun, anehnya, para pejabat tetap mengumandangkan agar rakyat hidup sederhana yang ironis dengan berbagai gaji, fasilitas, serta tunjangan-tunjangan yang besar.

Ajakan hidup sederhana harus dengan memberikan keteladanan atau contoh dari para pemimpinnya itu sendiri. Gerakan kesederhanaan atau apa pun programnya takkan berhasil kalau sebatas bicara saja atau formalitas dan insidental seperti yang ditunjukkan para pemimpin selama ini.

Tahun Hijriah yang akan berganti tak lama lagi mengingatkan kita akan sosok kepemimpinan seorang presiden, tepatnya Khalifah, yakni Umar bin Khattab RA. Sebagai pengganti Khalifah Abu Bakar RA. pada tahun 634 H, Umar telah mengembangkan kekuasaan Islam sehingga tumbuh dengan sangat pesat.

Selama kepemimpinan Khalifah Abu Bakar RA., Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan Dinasti Sassanid dari Persia. Kekuasaan Islam juga merambah Mesir, Palestina, Suriah, Afrika Utara, dan Armenia dari Kekaisaran Romawi (Byzantium).

Keberhasilan Umar bin Khattab RA. dalam menaklukkan Imperium besar (Persia dan Romawi) tidak lepas dari sosoknya yang tegas dan sangat bersahaja. Jangan bayangkan seorang khalifah dengan wilayah yang amat luas hidup dengan bergelimang gaji, fasilitas, tunjangan, dan kehidupan mewah lainnya. Bahkan, Umar bin Khattab RA. amat sederhana dengan gaji yang malah kekurangan sehingga memiliki utang.

Kisahnya pada suatu saat, ketika harga-harga barang di pasar mulai merangkak naik sehingga tokoh-tokoh Muhajirin seperti Utsman, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, dan Zubair berkumpul serta menyepakati agar gaji khalifah dinaikkan. Namun, mereka tak berani menyampaikan langsung ke khalifah sehingga melalui putri khalifah sekaligus istri Nabi Muhammad SAW., yakni Hafshah.

Namun, saat usulan tersebut disampaikan, Umar malah murka seraya berkata, "Siapa yang mengajari engkau untuk menanyakan usulan ini?" Hafshah menjawab, "Saya tidak akan memberitahukan nama mereka sebelum Ayah memberitahukan pendapat Ayah tentang usulan tersebut."

Umar balik bertanya kepada Hafshah, "Demi Allah, ketika Rasulullah masih hidup, bagaimanakah pakaian yang dimiliki di rumahnya?" Hafshah menjawab, "Di rumahnya, Rasulullah hanya mempunyai dua pakaian. Satu dipakai untuk menghadapi para tamu dan satu lagi untuk dipakai sehari-hari."

Umar bertanya lagi, "Bagaimana makanan yang dimiliki oleh Rasulullah?" Hafshah menjawab, "Beliau selalu makan dengan roti yang kasar dan minyak samin." Umar kembali bertanya, "Adakah Rasulullah mempunyai kasur di rumahnya?" Hafshah menjawab lagi, "Tidak, Beliau hanya mempunyai selimut tebal yang dipakai untuk alas tidur di musim panas. Jika musim dingin tiba, separuhnya kami selimutkan di tubuh, separuhnya lagi digunakan sebagai alas tidur."

Umar kemudian melanjutkan perkataannya, "Hafshah, katakanlah kepada mereka bahwa Rasulullah SAW. selalu hidup sederhana. Kelebihan hartanya selalu Beliau bagikan kepada mereka yang berhak. Oleh karena itu, aku mengikuti jejak Rasulullah."

Kelebihan Khalifah Umar lainnya adalah sering berjalan-jalan ke pelosok desa seorang diri atau istilah saat ini "blusukan" meskipun tetap saja dikawal ajudan ataupun pengawal kepolisian. Pada saat seperti itu tak seorang pun mengenali kalau Umar sebagai kepala pemerintahan. Kalau khalifah menjumpai rakyatnya sedang kesusahan, ia pun segera memberi bantuan. Umar sadar, kekuasaan yang ada di tangannya bukanlah miliknya melainkan milik rakyat. Oleh karena itu, Umar melarang keras anggota keluarganya berfoya-foya.

Ia selalu berhemat dalam menggunakan keperluannya sehari-hari. Saking hematnya, untuk menggunakan lampu saja keluarga Amirulmukminin ini amat berhati-hati. Lampu minyak baru dinyalakan bila ada pembicaraan penting. Jika tidak, lebih baik tidak pakai lampu.

Dalam hidupnya, Umar senantiasa memegang teguh amanat yang diembankan oleh rakyat di pundaknya. Pribadi Umar yang begitu mulia terdengar di mana-mana. Seluruh rakyat sangat menghormatinya. Rakyat hormat dan patuh dengan titahnya karena pemimpin mencontohkan perilaku sederhana serta amanah dalam kesehariannya.

Hijrahkan para pemimpin kami ya Allah. Jadikan para pemimpin kami baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif seperti sosok Umar.

Amin. ***

[Ditulis oleh HABIB SYARIF MUHAMMAD ALAYDRUS, Ketua Yayasan Assalam Bandung dan Mantan Anggota MPR RI. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Pon) 31 Oktober 2013 / 26 Zulhijah 1434 H pada Kolom "CIKARACAK"]

by
u-must-b-lucky
Ada dua nabi yang mendapat pujian dan penegasan wajib dicontoh (uswah) dan diikuti (qudwah) bagi umat akhir zaman, yaitu Nabi Ibrahim AS. dan Muhammad SAW. Penegasan keteladanan Ibrahim AS. didapat pada firman Allah,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Qad kanat lakum oswatun hasanatun fee ibraheema waallatheena maAAahu

Sesungguhnya telah ada keteladanan yang baik untuk kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang mengikutinya. (QS. Al-Mumtahanah (60): 4)

Beberapa kali Allah memuji akhlaknya, ketabahannya, dan keyakinannya dalam mempertahankan akidah sehingga menjadi panutan umatnya.

Allah memberikan penegasan agama yang dianut Ibrahim AS. melalui firman-Nya,

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Ma kana ibraheemu yahoodiyyan wala nasraniyyan walakin kana haneefan musliman wama kana mina almushrikeena

Ibrahim bukan seorang Yahudi, juga bukan Nasrani, tapi seorang manusia yang benar menyerahkan dirinya kepada Allah (Muslim) dan dia tidak termasuk orang yang menyekutukan Allah. (QS. Ali Imran (3): 67)

Bahkan, Nabi Muhammad SAW. diperintahkan Allah secara langsung untuk mengikuti dan menguatkan ajaran yang dibawa Ibrahim AS.

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Thumma awhayna ilayka ani ittabiAA millata ibraheema haneefan wama kana mina almushrikeena

Kemudian kami mewahyukan kepadamu (Muhammad), ikuti agama Ibrahim, seorang manusia yang benar, dan ia tidak termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah. (QS. An-Nahl (16): 123)

Ibrahim lahir dalam kultur masyarakat penyembah berhala, ayahnya juga penyembah berhala fanatik. Ibrahim lahir di Babilonia di bawah kekuasaan Raja Namruj. Dia hadir meluruskan segala bentuk peribadatan manusia dengan mengajarkan paham Tauhidisme, Tuhan yang tunggal, Tuhan bagi seluruh umat, yaitu Allah SWT. Tuhan yang diperkenalkan Ibrahim adalah Tuhan imanen (selalu ada dan selalu hadir) dalam setiap detak kehidupan. Tuhan yang menyertai ketika senang dan susah, ketika sedang menyendiri atau berkelompok, ketika sedang terbangun dan terjaga. Bahkan Tuhan yang paling dekat kepada hambanya, lebih dekat dari urat leher hamba tersebut.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ

Waitha saalaka AAibadee AAannee fainnee qareebun

Dan apabila hambaku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah sesungguhnya Aku sangat dekat. (QS. Al-Baqarah (2): 186)

Ibrahim datang memberi contoh ketika kaumnya mengadakan persembahan sesajen berupa manusia untuk persembahan berhala. Hal itu ditentangnya, manusia terlalu tinggi nilainya untuk sekadar dijadikan persembahan kepada dewa. Namun, ketika Allah menguji dengan meminta Ismail, anak satu-satunya dari Siti Hajar untuk dikorbankan, dia sanggup melaksanakannya. Beruntung Allah menggantikannya sehingga menjadi syariat Kurban yang melegenda sampai saat ini.

Waibraheema allathee waffa

Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji. (QS. an-Najm (53): 37)

Ibrahim AS. diutus membawa kabar gembira neraca keadilan yang diterima seluruh umat manusia, puncaknya akan diterima di akhirat kelak. Ibrahim AS. mengajarkan prinsip kemanusiaan yang universal, setiap manusia kedudukannya sama di hadapan Allah SWT. Prinsip keteladanan itu terwujud dalam praktik ibadah haji yang di kemudian hari diperkuat Rasulullah SAW. Seperti firman Allah,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا

Waothkur fee alkitabi ibraheema innahu kana siddeeqan nabiyyan

Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam kitab Al-Qur'an sesungguhnya ia adalah orang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. (QS. Maryam (19): 41)

Persamaan derajat kemanusiaan mendapat tempat paling dominan dalam pelaksanaan ibadah haji. Dalam satu kasus, Allah menegur sekelompok manusia yang merasa punya kelebihan dibanding dengan yang lain, perasaan superioritas itu terjadi ketika pelaksanaan wukuf di Padang Arafah.

Refleksi dari keteladanan Nabi Ibrahim AS. hendaknya menjadi spirit agar lebih mawas diri. Di tengah merebaknya kemusyrikan modern, saat manusia menghambakan diri untuk berhala yang tidak hanya berupa patung, tetapi juga berupa isme, paham, tokoh, ajaran, dan konsep yang hanya didasarkan pada ro'yu (pikiran) serta nafsu, maka spirit Nabi Ibrahim hendaknya menjadi inspirasi untuk kembali kepada Allah, memurnikan tauhid dan menolak segala bentuk kemusyrikan.

Di tengah pelaksanaan hukum yang tidak lagi menjadi panglima, saat hukum dipermainkan, dan tidak lagi memberikan perlindungan terhadap hak-hak manusia maka spirit Nabi Ibrahim sebagai pengabar neraca keadilan Tuhan, hendaknya membuat kita sadar, bahwa hukum Allah akan berlaku di dunia sampai hari pembalasan nanti. Jalan yang ditempuh Nabi Ibrahim AS. adalah jalan yang lurus dan benar. Yang ditempuh Rasulullah juga jalannya para sodoqin (benar), sobirin (sabar) yang akan menyelamatkan manusia.

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Qul innanee hadanee rabbee ila siratin mustaqeemin deenan qiyaman millata ibraheema haneefan wama kana mina almushrikeena

Katakanlah sesungguhnya aku telah ditunjuk oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar (Islam), agama Ibrahim yang lurus dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrik). (QS. Al-An'am (6): 161)

Wallahu'alam. ***

[Ditulis oleh H. AGUS ISMAIL, Khatib dan Imam Jumat di beberapa Masjid. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat Jumat (Pon) 11 Oktober 2013 / 6 Zulhijah 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]

by
u-must-b-lucky
Tak terasa, kita akan kembali merayakan Hari Raya Iduladha atau yang sering disebut dengan Idul Kurban. Dalam hari tersebut, setelah disebutkan kenikmatan yang besar, Allah SWT. memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk mendirikan shalat dan berkurban sebagai bukti rasa syukur atas nikmat-nikmat itu.

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Inna aAAtaynaka alkawthara
Fasalli lirabbika wainhar

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. (QS. Al-Kautsar (108): 1-2)

Hal itu ditegaskan pula dalam QS. Al-Hajj (22): 34,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

Walikulli ommatin jaAAalna mansakan liyathkuroo isma Allahi AAala ma razaqahum min baheemati alanAAami

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan, penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka...

Saking pentingnya perintah berkurban, sehingga Rasulullah SAW. dengan tegas dan lugas bahkan disertai ancaman mengatakan,
"Barangsiapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dalam hadits itu, Rasulullah SAW. melarang seseorang yang memiliki kelapangan harta untuk mendekati tempat shalat (masjid) jika ia tidak mau berkurban. Hal ini menunjukkan, seakan-akan tidak ada faedah mendekatkan diri kepada Allah bersamaan dengan meninggalkan perintah berkurban.

Berkurban pada hakikatnya tidak sekadar mengalirkan darah binatang, tidak hanya memotong hewan kurban, lebih dari itu, berkurban berarti ketundukan seorang hamba secara totalitas terhadap perintah-perintah Allah SWT. dan sikap menghindar dari hal-hal yang dilarang-Nya.

Berkurban juga berarti menyembelih sifat-sifat hewan yang melekat dalam diri setiap insan. Karena itu, sangatlah berat, tidak semua orang berkurban mampu melakukannya, kecuali mereka sadar, semua yang mereka miliki (harta, jabatan, keluarga, popularitas, dll) hanyalah titipan Allah SWT. yang tidak layak untuk disombongkan dan bisa diambil kapan saja jika Dia menghendaki.
Jika sikap tersebut telah dimiliki orang, niscaya akan tercipta keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat. Bagi pengusaha, ia akan berkurban dengan bisnis halal. Bagi yang berpunya, akan berkurban dengan banyak berderma. Bagi suami atau istri, akan berkurban dengan menjadikan rumah tangga sebagai ladang penyiapan generasi berbudi pekerti. Sebagai pendidik, akan berkurban dengan mengerahkan segala potensinya dalam menyiapkan calon pemimpin masa depan. Sebagai pengusaha akan berkurban dengan memberikan hak-hak kepada karyawannya sebelum keringatnya mengering.

Seorang politisi akan berkurban demi kemaslahatan bangsa dan negara, bukan malah sebaliknya, memanfaatkannya saat dibutuhkan dan menelantarkannya jika harapannya tercapai. Para pejabat akan berkurban untuk kesejahteraan rakyatnya, memperjuangkan nasib rakyatnya. Sebagai pemegang amanah negeri berkurban dengan berusaha mengelola negeri ini dengan kejujuran, bukan malah sebaliknya, melakukan korupsi atau mengeruk keuntungan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Bagi yang masih merasa gamang untuk berkurban ada baiknya kembali memahami hikmah di dalamnya,
Pertama, setiap helai bulu hewan kurban dibalas satu kebaikan. Rasulullah SAW. bersabda,
"Setiap satu helai rambut hewan kurban adalah satu kebaikan." Lalu sahabat bertanya, "Kalau bulu-bulunya?" Beliau menjawab, "Setiap helai bulunya juga satu kebaikan." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Kedua, sebagai ibadah yang paling dicintai Allah.
Ketiga, sebagai ciri keislaman seseorang.
Keempat, sebagai syiar agama Islam.
Kelima, mengenang ujian kecintaan Allah kepada Nabi Ibrahim AS. (QS. Ash-Shaffat (37): 102-107).
Keenam, sebagai misi kepedulian kepada sesama.

Rasulullah SAW. bersabda,
"Hari Raya Kurban adalah hari untuk makan, minum, dan dzikir kepada Allah SWT." (HR. Muslim)

Jika hakikat berkurban itu terus diselami, digali, dan diejawantahkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara niscaya bangsa ini akan dapat menjadi baldatun thayyibatun warubbun ghafur.

Semoga. ***

[Ditulis oleh IMAM NUR SUHARNO, Dosen Agama Islam Fakultas Hukum Universitas Kuningan, Jawa Barat. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Kamis (Kliwon) 3 Oktober 2013 / 27 Zulkaidah 1434 H. pada Kolom "DIBALIK RITUS"]

by
u-must-b-lucky
Seorang mukmin sudah seharusnya memperhatikan dan mengamalkan hadits Nabi Muhammad SAW.,
"Dunia adalah perhiasan dan perhiasan dunia adalah wanita yang salehah." (HR Muslim, Ibnu Majah, dan Imam An-Nasa'i)

Islam telah mengatur sedemikian indahnya bagaimana seharusnya perilaku kaum wanita, termasuk dalam cara berpakaian, sehingga wanita berhak mendapatkan predikat perhiasan dunia. Wanita selain wanita salehah tidak berhak mendapatkan predikat perhiasan dunia yang sebenarnya. Oleh karena itu, wanita salehah dalam kesehariannya selalu berusaha agar hidup sesuai dengan syariat Islam.

Sebagai perhiasan dunia, bukan berarti wanita salehah mesti ataupun perlu menampakkannya kepada khalayak ramai, bukan pula untuk memperlombakan keindahan rupa dan penampilannya. Akan tetapi, di hadapan Allah SWT. wanita salehah sama halnya dengan pria saleh, mereka perlu berjuang dan berlomba mengerjakan amal saleh sehingga berhak mendapatkan balasan surga.

Sebagaimana firman Allah SWT. dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa (4): 124,

وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

Waman yaAAmal mina alssalihati min thakarin aw ontha wahuwa muminun faolaika yadkhuloona aljannata wala yuthlamoona naqeeran

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.

Pada kenyataannya, tidak dapat dipungkiri setiap wanita ingin tampil cantik dan fresh (segar). Tentu saja, Islam mengajarkan batasan agar upaya tersebut tidak menjadi fitnah atau jauh dari ridha Allah SWT. Bagaimanapun tubuh yang diamanahkan harus dirawat dan dipelihara. Idealnya cantik luar dalam (inner and outer beauty), dan pria akan mudah jatuh cinta kepada wanita yang berwajah manis dan menarik. Daya tarik wajah ini membantu pemiliknya untuk membangun hubungan sosial yang lebih langgeng.

Bisa dimaklumi ada anggapan, wanita yang memiliki wajah atau postur tubuh yang baik, dipandang banyak pria memiliki karakter positif. Namun, pria menilai kecantikan pada wanita juga relatif, ada wanita yang dikatakan cantik oleh banyak pria, tetapi pria lain berkata biasa saja. Pasti ada pesona lain yang membingkai keindahan wanita sehingga mampu menaklukkan hati pria untuk mengaguminya.

Selain karena kecantikannya, terdapat tiga pesona yang membingkai wanita sehingga tampil indah dipandang mata yaitu karena keimanannya, hatinya, dan balutan busananya.

Keimanannya, sesungguhnya menurut ajaran Islam hanya iman yang disertai amal saleh yang dapat mengantarkan wanita menjadi seseorang yang baik di mata manusia ataupun Tuhannya. Namun, setelah redup cahaya iman di hati wanita lenyaplah nilai-nilai kebaikan pada dirinya. Hidup di masyarakat pun menjadi masyarakat yang penuh kebohongan, kesombongan, kekerasan individualisme, keserakahan, kerusakan moral dan kemungkaran. 

Iman dalam Islam menempati posisi amat penting dan strategis sekali. Karena iman adalah asas dan dasar bagi seluruh amal. Tanpa iman, tidaklah sah dan tidak diterima amal perbuatannya.

Hatinya; banyak di antara manusia terkecoh merasakan pesona duniawi ini dari tolok ukur yang semu berdasarkan kulit luar saja, fisik menarik, kedudukan terhormat, atau untaian kata indah. Tidak ada yang paling merugi di dunia ini kecuali orang yang terpukau oleh segala keindahan dan kemewahan dunia dengan segala isinya, lalai memelihara hati sebagai harta yang paling berharga. Tidak jarang bodi memikat, tapi pikiran tidak jernih, mudah putus asa, tidak mempertimbangkan atau tidak peduli larangan dan perintah Allah SWT., tidak mau menjalankan amanat, akibatnya menjerumuskan diri bahkan keluarga, pada kebinasaan.

Sementara, mereka yang senantiasa membersihkan hatinya selalu menyikapi kebahagiaan atau ujian seberat apa pun dengan kesabaran, yang disertai dengan ikhtiar kuat untuk mencari jalan keluar. Orang yang membersihkan hatinya tidak pernah menderita sakit hati dan perasaan stres karena cukup baginya jaminan dari Allah SWT. Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya surga tempat tinggalnya.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

Waama man khafa maqama rabbihi wanaha alnnafsa AAani alhawa Fainna aljannata hiya almawa

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. An Nazi'at (79): 40-41)


Balutan busana; bagi kaum wanita, Islam juga mengajarkan letak keindahan lewat busana yang menampakkan identitas pemakainya, tidak menampakkan auratnya. Tentang maraknya berbagai model busana Muslimah sekarang ini, bukan berarti wanita tidak boleh menyukainya bahkan memakainya, asalkan tetap sesuai dengan syariat Islam, sehingga busana yang dikenakannya tidak menyeretnya ke neraka.
Hal ini seperti yang diterangkan Rasulullah SAW. dalam sebuah hadits,
"Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakikatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) onta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk."
Wanita salehah senantiasa memelihara perilaku dan penampilannya dengan keimanannya, berselendang rasa malu dengan berpakaian ketakwaan dan sikap tawadhu, serta menjaga kehormatan dengan hijab yang menutupi aurat. Wanita tersebut sejatinya merupakan Ratu Kecantikan Sejagat, dan sejatinya perhiasan dunia adalah Wanita yang Salehah!

Wallahu'alam. ***

[Ditulis oleh SUPRIYONO, SPd. MPd., Dosen Jurusan MKDU FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia. Tulisan disalin dari Harian Umum "PIKIRAN RAKYAT" Edisi Jumat (Manis) 30 Agustus 2013 / 23 Syawal 1434 H. pada Kolom "RENUNGAN JUMAT"]


by
u-must-b-lucky